Oleh : Hotmatua Paralihan, MA.
Sejumlah pemuka lintas agama Sumatera Utara Berkunjung ke Taiwan guna
bertukan Pandangan dengan pemuka agama pada 23-27 September 2012,
difasilitasi oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Medan Mujianto.
Yayasan Tzu Chi artinya Tzu
mengasihi orang yang tidak kenal, Chi artinya memberikan apa yang
dibutuhkan orang lain. (pidato Master Cheng 26-09-2012 di Hualien).
Yayasan ini berdiri di Medan tahun 2002 dipimpin oleh Pak Mujianto
sampai sekarang dengan kegiatan utamanya misi amal, kesehatan,
pendidikan, dan budaya kemanusiaan. Jadi tidak terjebak dengan politik
praktis dan penyebaran agama tertentu.
Dalam mengembangkan misi di atas, Yayasan Buddha Tzu Chi Medan, sangat
perduli dengan lingkungan hidup ditandai dengan berdirinya tempat-tempat
daur ulang sampah (seperti di Medan , Tebing Tinggi dan menyusul Binjai
dan akan dibangun di Kota-kota lainnya di Sumatera Utara).
Daur ulang sampah (plastik dan kertas) untuk dijadikan pakaian dan
selimut yang disumbangkan kembali untuk kegiatan kemanusiaan seperti
Gempa di Tapanuli Utara tahun 2010, Nias dan Aceh, pemberian makanan,
pengobatan untuk orang miskin dan pembiayaan sekolah bagi yang tidak
mampu tanpa melihat latar belakang agama dan suku dan penyiaran DAAI TV
100 persen tanpa iklan komersil.
Melihat geliat kegiatan Tzu Chi di Sumatera Utara, Mujianto melalui
Muhammad Rasyid ibn Abdullah, seorang birokrat Sumatera Utara, yang juga
turut dalam rombongan, mengundang tokoh lintas agama Sumatera Utara
untuk meninjau langsung ke pusat kegiatan yayasan ini di Taiwan. Dalam
pembicaraan dengan beberapa tokoh lintas agama ini Mujianto mengatakan,
saya tidak bisa bercerita banyak tentang yayasan ini tetapi kita lihat
langsung ke Taiwan".
Pada saat acara Hikmah Ramadan DAAI TV bulan Agustus 2012 di Hotel
Tiara, tokoh ini berbincang dengan Ketua Yayasan Tzu Chi, Mujianto dan
mendapat satu kesimpulan keberangkatan ke Taiwan melibatkan beberapa
tokoh, di antaranya : Prof. Dr. H. Muhammad Hatta, Ketua MUI Medan MA,
DR. H. Maratua Simanjuntak, Ketua FKUB Sumatera Utara, Drs. H. Amhar
Nasuion, MA selaku Ulama Sumatera Utara. Selanjutnya, Hotmatua
Paralihan, MA, dan Syafii mewakili intlektual muda Islam. JA Fernandus,
mewakili Kristen, Benno Ola, pemuka Katolik, Witaryo Umar Mewakili
Baddha, Candra Bose mewakili Hindu, Andi Wiranata mewakili Khong Hu Chu.
Serta Eddy Sofyan Purba, Kepala Dinas Kesbang Pempropsu, dan Fauzi Ibsa
serta Badan Lingkungan Hidup. Sebelum berangkat rombongan ini dilepas
Gubernur Sumatera Utara, Gatot Padjo Nugroho, ST.
Yayasan Tzu Chi (Master Cheng Yen) ini memiliki lima pilar kegiatan
Utama Humanis, yaitu Bantuan Kemanusiaan, program Kesehatan, Penyiaran
dan Lingkungan Hidup. Bantuan Kemanusiaan
Menurut Master, bencana dan malapetaka berawal dari ketidak harmonisan
batin manusia (pidato sambutan Master terhadap tokoh lintas agama
Sumatera Utara di aula Perenungan Hualien-Taiwan 20 September 2012 ).
Oleh sebab itu manusia ini harus dibimbing, untuk tetap menjaga hati
nurani dan keseimbangan hatinya dengan mengembangkan welas asih, rasa
kasih sayang di antara sesama manusia, mengasah perasaan untuk ikut
berempati, dan sempatik apabila melihat penderitaan orang lain. Tanpa
melihat latar belakang suku, ras, dan agama.
Maka dengan menyeimbangkan hati yang seperti inilah dunia ini bisa
diselamatkan dari bencana kamanusiaan. Bentuk kongkrit dari welas asih
dan keharmonisan hati manusia ini bisa diwujudkan dengan bantuan sosial,
kemanusiaan, menghibur orang yang sedang tertimpa bencana dengan
meringankan bebannya memberikan berupa bantuan makanan, pakaian,
obat-obatan maupun papan (membangun rumah).
Di Indonesia misalnya, relokasi penduduk Kali Angke Jakarta Yayasan Tzu
Chi telah membangun 1.100 unit rumah, dan difasilitasi dengan sekolah,
rumah sakit, industri rumah tangga. (Buku Yayasan Tzu Chi
Indonesia-Perwakilan Sumatera Utara).
Pelayanan Kesehatan
Master Cheng Yen mengemukakan bahwa sakit merupakan awal dari
kemiskinan, akibat orang sakit tidak bisa bekerja, tidak bisa
beraktivitas dan akibat sakit tidak jarang orang kaya menjadi jatuh
miskin. (pidato sambutan Master Hualien-Taiwan , 20 September 2012 ).
Dalam rangka mendukung ide ini Yayasan Tzu Chi yang didirikan Master
Cheng membangun beberapa rumah sakit di dunia, 6 di Taiwan termasuk
Indonesia di (Pantai Indah Kapuk-Jakarta).
Ada beberapa ciri khas rumah sakit (RS) ini, pertama, mengembangkan
pelayanan humanis, seperti menerima relawan untuk mengurusi rumah sakit,
seperti relawan penataan bangunan rumah sakit. Relawan memberikan
hiburan (seniman) sehingga pasien tidak hanya berdiam di ruangan rawat
tetapi ada rungan terbuka yang dihibur dengan lagu-lagu yang menenangkan
hati.
Relawan untuk ikut menjaga pasien yang tidak ada keluarganya, relawan
untuk menyumbangkan organ tubuhnya, misalkan untuk sekarang Rumah Sakit
Yayasan Badha Tzu Chi di Taiwan nomor dua di dunia sebagai stok bank
sum-sum yang setiap saat bisa digunakan untuk pengobatan kanker darah
(leukimia). Jumlah pendaftar relawan 200 orang/ hari paling cepat 6
bulan baru dapat giliran.
Kedua penataan fisik seperti kebersihan sangat terjaga, keindahan
arsitektur bangunan yang khas Mandarin didasari dengan nilai filosofis
bangunan dan penataan tempat dan alat-alat yang sangat baik. Seperti
atap rumah sakit yang disimbolkan dengan genggaman tangan manusia yang
satu dengan yang lain saling menguatkan. Ketiga, mempublikasikan
nama-nama dan foto pendonor anggota badan untuk digunakan kepentingan
kesehatan orang lain yang sampai saat ini sudah mencapai lebih kurang
30.000 orang.
Melihat kenyataan ini, (foto-foto dan biografinya dipampangkan di
dinding), emosi penulis ini terkuras membayangkan bagaimana bisa
nilai-nilai humanis yang dikembangkan oleh Master Cheng Yen dapat
merasuk ke dalam jantung anak manusia sehingga diakhir hayatnya orang
rela menyumbangkan sebagian hidupnya bahkan dirinya sekalipun demi
membantu orang lain dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan di muka
bumi ini.
Hal ini pernah diucapkan dengan tulus oleh Master Cheng Yen diwaktu 15
tahun saat ibunya sakit (acute gastric perforation) luka lambung yang
perlu dioperasi "Saya rela dikurangi umur saya 12 tahun untuk kesembuhan
Ibu saya".
Menurut analisa penulis hal ini merupakan nilai nilai humanis yang ada
pada setiap agama dan kearipan local paradaban manusia. Seperti ajaran
Islam, "Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya"
dan "belum beriman seseorang sebelum dia mencintai orang lain
sebagaimana mencintai dirinya sendiri"(hadis).
Program Pendidikan
Pilar ketiga sebagai wujud nyata dari nilai-nilai humanis yang
dikembangkan Master adalah pendidikan. Karena dengan pendidikan manusia
ini dapat hidup harmonis. Dengan pendidikan dapat membimbing orang agar
berjalan kea rah yang benar.
Sebagai wujud welas asih dalam pendidikan ini Master Cheng Yen dengan
Yayasan Badha Tzu Chi mendirikan sekolah mulai dari tingkat TK sampai
perguruan Tinggi. Sekolah yang dibangun bukan hanya di Taiwan tetapi
juga dimancanegara seperti TK sampai SMU di Pantai Indah Kapuk -
Jakarta.
Di Hualien-Taiwan, tingkat SD sampai SMU memiliki luas pekarangan lebih
kurang 17 hektar dan memiliki bangunan bangunan yang kokoh dirancang
sesuai dengan keadaan geografis Taiwan yang rawan gempa sehingga
didesain dengan anti gempa. Dalam nilai nilai estetika dan filosofis
yang menjadi ciri khas lembaga pendidikan ini baik yang ada di Taiwan
maupun di Jakarta adalah tiga filar utama yaitu :
Pertama : Pendidikan sehari hari, seperti membudayakan antrian,
membersihkan diri keserasian lingkungan. Hal ini tercermin pada sekolah
SMP dan SMA di Taiwan seluas 17 hektar tidak memiliki staf kebersihan,
tetapi semua guru, siswa ikut dalam menjaga kebersihan sehingga sekolah
dan lingkungannya sengat bersih karena semua ikut bertanggung jawab
terhadap kebersihan, dan keindahan.
Kedua budi pekerti (character building) di antara medianya adalah
merangkai bunga dan menghidang air teh. merangkai bunga adalah symbol
keindahan yang harus dimiliki oleh semua manusia, dan menghidangkan teh
atau air minum harus dipalajari dari cara mengisi dan menghidangkannya,
sehingga sikap melayani dapat melekat dalam keperibadian siswa.
Ketiga, pembentukan Cinta Kasih sesama manusia. Seperti pengisian air
teh dalam gelas tidak 100 persen tetapi dikosongkan glas sekitar 20 %.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia harus menyadari dirinya tidak benar
100 persen tetapi ada kekurangan 20 persen yang harus diisi oleh
kebenaran orang lain. Master mengatakan atas dasar ini kita harus
belajar dari semua orang yang ada disekeliling kita baik yang menyukai
meupun yang membenci kita. Alam dan seluruh manusia harus menjadi guru
bagi kita.
Program Penyiaran
Master menjelaskan sebagaimana disampaikan oleh Ketua Yayasan Tzu Chi
Medan, Mujianto, semua yang kita lakukan untuk kemanusiaan harus
diketahui orang lain, untuk mengajak manusia berbuat baik dan
mengembangkan welas asih (kasih sayang) dipermukaan bumi ini, karena
untuk kemanusiaan semua harus terlibat sesuai dengan kapasitasnya.Untuk
itu penyiaran itu sangat penting, sekaligus sebagai informasi kepada
dunia masih ada yang berbuat baik bukan seperti penyiaran yang lain
banyak yang menayangkan kekerasan tidak menambah rasa asih dan asuh di
antara manusia.
Dalam rangka menyampaikan misi ini, insan Tzu Chi mengembangkan
(broadcasting) penyiaran yang berbasis kemanusiaan. Direktur DAAI TV
Jakarta, Ferry H. Josohadisoerjo, yang juga anak mantan Menteri Dalam
Negeri Basuki Rahmat, saat kata kata perpisahan dengan rombongan tokoh
Lintas Agama Sumatera Utara di Taiwan, mengatakan, saat ini DAAI TV
telah disiarkan lebih dari 100 negara, Asia, Australia, Timur Tengah,
Selandia Baru, dan USA termasuk Jakarta dan Medan. Sekalipun demikian,
menurut ukuran broadcast, dilihat dari jumlahnya DAAI TV belum ada
apa-apanya dibanding CNN, namun karena TV ini tidak ada iklan komersial
tetapi murni hanya untuk menunjang kegiatan kemanusiaan hal itu luar
biasa. Dan itulah sebabnya saya secara pribadi mau menjadi salah satu
jajaran pempinan di DAAI TV ini.
Menurut kepala DAAI TV Taiwan, saat ini Taiwan memiliki lebih dari
seratus stasiun TV namun DAAI TV termasuk rating lima besar bidang
sinetron. Terutama karena tidak ada iklan dan banyak menyampaikan kisah
pendidikan kemanusiaan.
Pembiayaan penyiaran ini dari daur ulang sampah plastik dan kertas
diseluruh dinia termasuk yang ada di Sumatera Utara dan sumbangkan
donator yayasan Tzu Chi sedunia dengan koin sekalipun.
Pelestarian Lingkungan
Disaat dunia sedang dilanda ketidak teraturan iklim dan sering terjadi
bencana, banjir dan topan yang sering disebut dengan global warming
(pemanasan gelobal) akibat dari ulah tangan manusia yang merambah hutan
dan perusakan lingkungan lainnya, Insan Tzu Chi, bekerja keras untuk
melestarikan lingkungan. Dengan daur ulang sampah, botol bekas dan
kertas.
Menurut Kabag Daur Ulang Distrik Neihu Taiwan menjelaskan kepada
rombongan lintas agama Sumatera Utara, botol air mineral ini dipotong
menjadi kecil-kecil, diolah menjadi biji plastik, diolah menjadi benang
dan benang ditenun menjadi kain. 8 botol air mineral seperti aqua diolah
menjadi 1 kaos olahraga, 78 botol air mineral bisa diolah menjadi 1
selimut. 50 kg kartas diambil dari 1 pohon berumur 20 tahun.
Saat ini setelah 20 tahun melakukan pelestarian lingkungan di Taiwan,
dan telah melibatkan 20 ribu relawan (volunteer) insan Tzu Chi, sudah
setara dengan pemeliharaan 18 juta pohon kayu. Dan saat ini telah
mengirim 55 ribu potong selimut ke 25 negara yang pernah kena bencana
termasuk korban gempa Tsunami tahun 2004 di Aceh.
Kegiatan ini memiliki memakai prinsif 5 R. yaitu Refuse, Reduce, Reuse,
Repair dan Recycle. Dengan prinsif ini semua barang bekas bisa digunakan
dengan memanfaatkan kembali, dan semboyan love and care for all. Cinta
dan perhatian kepada semua orang, tanpa melihat latar belakang agama,
suku, keturunan dan ras.
Kesimpulan
Dengan misi perjalanan ini, penulis mengambil beberapa kesimpulan
pertama : Ide humanis Master Cheng Yen seolah olah dipentaskan dalam
dunia nyata dalam bentuk rumah sakit, pelayanan kesehatan. Sekolah
pelayanan pendidikan. Sumbangan bantuan. Daur ulang , pelestarian
lingkungan hidup dan ditopang olah kegiatan penyaran, bisa menembus,
skat-skat politik, negara, ras dan agama.
Para insan Tzu Chi terlihat membaur dan terlibat langsung dalam kegiatan
sosial tanpa terlihat sebagai seorang kaya dan pejabat, seperti ketua
relawan Sedunia Stephan Huang, seorang banker di Amerika, Sugianto
Kesuma, Wakil Ketua Tzu Chi Jakarta, Ferry H. Josohadisoerjo sebagai
Direktur beberapa perusahaan, DAAI TV Jakarta, Mujianto Ketua Tzu Chi
Medan, yang cukup dikenal di Indonesia, Hendra Sakti pemilik Swalayan
Bartagi Medan, Januar Tambera Timur. Tetapi apabila ada misi sosial
mereka ini terlibat langsung, bukan mengutus staf dan hanya memberikan
bantuan uang saja tetapi mereka terlibat langsung kelapangan.
Keadaan mereka sehari-harinya yang serba berkecukupan dan biasanya
dilayani dengan berbagai staf diberbagai perusahaan dan pekerjaan
berbalik 160 drajat menjadi pelayan apabila dalam melaksanakan membantu
musibah dan bencana serta missi kemanusiaan lainnya.***
http://www.analisadaily.com